purwadhika-logo
hamburger-menu
Purwadhika Logo

Programs

For Corporate

Community

Why Purwadhika


Estetik atau Autentik? Ini Fakta tentang Video Marketing

Sri Fersney Hedwinanto

∙

01 November 2026

film_crew_operating_camera_on_set_production_2026_09_24_06_07_47_utc_d2daa98cdd.jpg

Video marketing bukan cuma soal membuat video yang terlihat bagus. Di tengah banyaknya konten yang muncul setiap hari, brand juga perlu membuat video yang terasa dekat, relatable, dan bisa dipercaya audiens. Karena itu, pertanyaannya bukan harus memilih video estetik atau autentik, tetapi bagaimana menggabungkan keduanya agar pesan brand tersampaikan dengan baik.

Ada brand yang memilih produksi video dengan lighting profesional, kamera berkualitas, dan editing yang rapi. Ada juga yang lebih sering menggunakan video sederhana seperti behind the scenes, review pelanggan, atau rekaman sehari-hari menggunakan smartphone.

Keduanya bisa menjadi bagian dari strategi video marketing. Namun, mana yang sebenarnya lebih efektif untuk menarik perhatian audiens dan membangun kepercayaan?

Kenapa Video Marketing Semakin Penting untuk Brand?

Video sudah menjadi salah satu format konten yang banyak digunakan oleh bisnis untuk berkomunikasi dengan audiens. Alasannya cukup sederhana: video bisa menyampaikan informasi, memperlihatkan produk, sekaligus membangun hubungan dengan calon pelanggan dalam satu format.

Dalam laporan State of Video Marketing 2026 dari Wyzowl, sebanyak 91% bisnis menggunakan video sebagai salah satu alat marketing, sementara 93% video marketer menganggap video sebagai bagian penting dari strategi mereka.

Menariknya, video juga punya peran dalam memengaruhi keputusan pembelian. Dalam survei Wyzowl yang melibatkan marketer dan konsumen, 85% responden dari kelompok konsumen mengatakan pernah terdorong untuk membeli produk setelah menonton video.

Artinya, video bukan hanya menjadi cara untuk membuat brand lebih dikenal. Kalau dibuat dengan pendekatan yang tepat, video juga bisa membantu audiens memahami produk dan mempertimbangkan pembelian.

Apa Bedanya Video Estetik dan Video Autentik?

Sebelum menentukan mana yang lebih cocok untuk brand, kita perlu memahami dulu perbedaannya.

Video estetik, mengutamakan tampilan visual

Video estetik biasanya dibuat dengan perencanaan visual yang lebih matang. Mulai dari pencahayaan, komposisi gambar, pemilihan warna, transisi, sampai editing diperhatikan agar hasil akhirnya terlihat rapi dan konsisten dengan identitas brand.

Contohnya:

  • Video product showcase dengan pengambilan gambar profesional.
  • Video campaign dengan konsep visual yang sudah direncanakan.
  • Video iklan dengan editing, motion graphic, dan storytelling yang terstruktur.
  • Video tutorial produk dengan tampilan yang bersih dan informatif.

Format seperti ini cocok ketika brand ingin membangun kesan profesional, memperkenalkan produk, atau menyampaikan informasi yang membutuhkan visual jelas.

Video autentik, mengutamakan kedekatan dengan audiens

man-records-cooking-video-in-commercial-kitchen-2026-09-23-17-19-27-utc.jpg

Berbeda dari video yang sangat terkonsep, video autentik lebih menonjolkan sisi natural dan apa adanya. Tidak harus menggunakan kamera profesional atau editing yang kompleks.

Contohnya:

  • Video behind the scenes aktivitas tim.
  • Review atau testimonial pelanggan.
  • Video pengalaman menggunakan suatu produk.
  • Konten karyawan yang berbagi cerita tentang pekerjaannya.
  • Video pendek dengan format POV atau cerita sehari-hari.

Daya tariknya ada pada pengalaman dan sudut pandang yang terasa nyata. Audiens bisa melihat sisi manusia di balik sebuah brand, bukan hanya pesan promosi yang sudah dikemas dengan rapi.

Namun, autentik bukan berarti asal rekam. Pesan tetap harus jelas, informasi tidak boleh menyesatkan, dan kualitas gambar maupun audio tetap perlu diperhatikan.

Apa Kata Riset tentang Video Autentik vs Produksi Profesional?

Perdebatan antara video estetik dan autentik ternyata juga terlihat dalam riset marketing terbaru.

Dalam 2026 Social Media Marketing Report dari HubSpot, sebanyak 77% marketer mengatakan bahwa autentisitas lebih penting daripada nilai produksi untuk konten brand di media sosial. Laporan ini didasarkan pada survei terhadap lebih dari 1.100 profesional media sosial global.

Temuan ini menunjukkan bahwa brand tidak selalu membutuhkan video dengan produksi besar untuk menarik perhatian audiens. Konten yang sederhana, natural, dan punya sudut pandang yang jelas juga bisa menjadi pilihan.

Namun, bukan berarti kualitas visual sudah tidak penting.

Dalam laporan State of Video Marketing 2026 dari Wyzowl, 89% konsumen mengatakan kualitas video memengaruhi tingkat kepercayaan mereka terhadap sebuah brand.

Dua temuan ini sebenarnya tidak bertentangan.

Autentisitas berbicara tentang seberapa nyata dan relevan pesan yang disampaikan. Sementara kualitas video berkaitan dengan pengalaman audiens saat menontonnya.

Video tidak harus terlihat seperti iklan televisi agar dianggap berkualitas. Selama gambar cukup jelas, suara terdengar baik, informasi mudah dipahami, dan pesannya terasa jujur, video sederhana pun bisa memberikan pengalaman menonton yang baik.

Kapan Brand Sebaiknya Menggunakan Video Estetik atau Autentik?

Jawabannya bergantung pada tujuan konten dan siapa yang ingin dijangkau.

Tujuan kontenPendekatan yang bisa digunakan
Memperkenalkan produk baruVideo estetik dengan product showcase
Membangun kepercayaanTestimonial dan review pelanggan
Memperlihatkan aktivitas brandBehind the scenes atau employee-generated content
Menjelaskan cara kerja produkVideo demo dengan visual yang jelas
Menarik perhatian audiens di media sosialVideo autentik dengan hook yang relatable
Menjalankan campaign brandKombinasi visual yang terkonsep dan storytelling autentik

Misalnya, sebuah brand skincare ingin memperkenalkan produk baru.

Untuk menjelaskan tekstur, kemasan, dan keunggulan produk, brand bisa menggunakan video dengan visual yang lebih terkonsep agar detailnya terlihat jelas.

Namun, untuk menunjukkan pengalaman pengguna, brand bisa membuat video testimonial dari pelanggan yang menceritakan pengalaman mereka menggunakan produk tersebut.

Keduanya punya fungsi berbeda, tetapi bisa mendukung tujuan marketing yang sama.

Bagaimana Cara Membuat Video Marketing yang Menarik sekaligus Terasa Autentik?

Video yang menarik tidak selalu membutuhkan peralatan mahal atau proses produksi yang rumit. Yang lebih penting adalah memahami pesan yang ingin disampaikan dan bagaimana cara membuat audiens tertarik untuk menontonnya.

Berikut beberapa hal yang bisa diperhatikan.

1. Mulai dari pesan, bukan hanya konsep visual

Sebelum memikirkan angle kamera, transisi, atau warna video, tentukan dulu apa yang ingin disampaikan.

Apakah ingin memperkenalkan produk? Menjawab masalah pelanggan? Membangun awareness? Atau mengajak audiens melakukan pembelian?

Tujuan yang jelas akan membantu menentukan pendekatan visual dan storytelling yang tepat.

2. Gunakan cerita yang dekat dengan audiens

Konten yang terasa relatable biasanya lebih mudah membuat audiens tertarik karena mereka bisa melihat pengalaman atau masalah yang juga mereka alami.

Misalnya, daripada hanya mengatakan bahwa sebuah produk bisa menghemat waktu, tunjukkan situasi sehari-hari ketika produk tersebut benar-benar membantu menyelesaikan masalah.

3. Jangan terlalu fokus pada editing

Transisi yang menarik, efek visual, dan musik memang bisa membuat video terlihat lebih dinamis. Namun, semua itu tidak akan banyak membantu kalau pesan utamanya sulit dipahami.

Pastikan audio jelas, teks mudah dibaca, dan setiap bagian video punya tujuan. Editing seharusnya membantu memperjelas cerita, bukan justru mengalihkan perhatian.

4. Tampilkan karakter brand yang konsisten

Autentisitas tidak cukup hanya dengan menggunakan format video sederhana. Brand juga perlu punya gaya komunikasi yang konsisten.

Mulai dari cara berbicara, sudut pandang, humor, hingga cara merespons audiens. Dengan begitu, konten brand akan lebih mudah dikenali dan tidak terasa seperti mengikuti tren semata.

5. Uji beberapa pendekatan konten

Tidak semua audiens merespons jenis video dengan cara yang sama.

Coba buat dua versi konten dengan pesan yang sama, tetapi pendekatan berbeda. Satu menggunakan visual yang lebih polished, sementara yang lain menggunakan format yang lebih natural.

Kemudian, bandingkan performanya. Dari situ, brand bisa memahami pendekatan mana yang lebih sesuai dengan karakter audiens dan tujuan campaign.

Bagaimana Cara Mengukur Keberhasilan Video Marketing?

Jumlah views memang bisa menjadi indikator awal untuk melihat jangkauan video. Namun, angka tersebut belum tentu menunjukkan apakah konten berhasil mencapai tujuan marketing.

Dalam laporan Wyzowl 2026, 67% video marketer menggunakan views untuk mengukur keberhasilan video, 63% memperhatikan engagement, dan 52% mengukur leads serta clicks. Sementara itu, hanya 32% yang menggunakan penjualan langsung sebagai salah satu ukuran keberhasilan.

Karena itu, metrik yang digunakan sebaiknya disesuaikan dengan tujuan kontennya.

TujuanMetrik yang diperhatikan
Brand awarenessReach, impressions, dan video views
Menarik perhatianWatch time dan audience retention
Membangun engagementComments, shares, dan saves
Mengarahkan trafficLink clicks dan profile visits
Menghasilkan penjualanLeads, conversion rate, dan sales

Contohnya, kalau tujuan video adalah memperkenalkan produk kepada audiens baru, jumlah views dan reach bisa menjadi indikator awal.

Namun, kalau tujuannya mendorong pembelian, brand perlu melihat apakah penonton melanjutkan ke halaman produk, menghubungi bisnis, atau melakukan transaksi.

Dengan begitu, evaluasi video marketing tidak berhenti pada pertanyaan "Berapa banyak yang menonton?", tetapi juga "Apa yang dilakukan audiens setelah menonton video ini?"

Jadi, Lebih Efektif Video Estetik atau Autentik?

Tidak ada satu format yang selalu lebih efektif untuk semua brand dan semua tujuan marketing.

Video estetik bisa membantu brand menyampaikan pesan secara profesional dan membuat produk terlihat lebih menarik. Sementara itu, video autentik bisa membuat komunikasi terasa lebih dekat dan membantu membangun kepercayaan audiens.

Kuncinya adalah tahu kapan harus menggunakan masing-masing pendekatan dan bagaimana menggabungkannya.

Karena pada akhirnya, video marketing bukan hanya tentang membuat konten yang bagus untuk dilihat. Brand juga perlu memikirkan apa yang ingin disampaikan, siapa yang ingin dijangkau, dan dampak apa yang diharapkan dari konten tersebut.

Kalau kamu ingin belajar lebih dalam tentang strategi konten, campaign planning, hingga cara mengukur performa marketing, kamu bisa mengeksplorasi program Job Connector Digital Marketing Purwadhika.

Di sini, kamu akan belajar memahami digital marketing secara menyeluruh, bukan hanya membuat konten, tetapi juga bagaimana strategi yang tepat bisa memberikan dampak bagi bisnis.

FAQ

1. Apa perbedaan video estetik dan video autentik?

Video estetik lebih menonjolkan kualitas visual, seperti komposisi, pencahayaan, warna, dan editing. Sementara video autentik lebih mengutamakan cerita yang natural, relatable, dan terasa nyata bagi audiens.

2. Apakah video autentik lebih efektif daripada video profesional?

Tidak selalu. Efektivitas video bergantung pada tujuan marketing, karakter audiens, dan platform yang digunakan. Video autentik bisa cocok untuk membangun kedekatan, sedangkan video profesional bisa lebih sesuai untuk product showcase atau campaign tertentu.

3. Apakah membuat video marketing harus menggunakan kamera profesional?

Tidak. Smartphone sudah bisa digunakan untuk membuat video marketing. Namun, pastikan pencahayaan cukup, suara jelas, gambar stabil, dan informasi mudah dipahami.

4. Bagaimana cara membuat video marketing yang bisa meningkatkan penjualan?

Mulai dengan memahami target audiens dan masalah yang ingin diselesaikan. Tampilkan manfaat produk dengan jelas, gunakan storytelling yang relevan, sertakan CTA, lalu evaluasi performanya melalui clicks, leads, dan conversion rate.

5. Apakah video marketing cocok untuk bisnis kecil?

Ya. Bisnis kecil bisa memanfaatkan video sederhana seperti demo produk, testimonial pelanggan, behind the scenes, atau video edukasi. Tidak harus menggunakan produksi besar, selama kontennya relevan dan sesuai dengan tujuan bisnis.


bagikan


wa-button